Merajut Akar-akar Kebangsaan

Oleh: Abdurrahman Wahid

Judul di atas memberikan pengertian bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat  umpamanya, bahwa pada abad ke-6 Masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah didatangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabukan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan menempati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga ini dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, di kawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.

Pada abad ke-9 Masehi, di derah Prambanan mereka mendirikan Candi Rara Jongrang, terkenal dengan sebutan Candi Prambanan. Candi tersebut sudah menjadi tempat beribadat cara Budha. Pada abad ke-10 Masehi, orang-orang Budha di daerah Prambanan itu kemudian berpindah 500 kilometer jauhnya, yaitu ke daerah Kediri. Kerajaan yang mereka dirikan itu memiliki rakyat yang beragama Hindu-Budha. Rajanya yang sangat terkenal adalah Prabu Airlangga dari derah Kediri/Daha itu. Dua abad kemudian mereka berpindah ke Singosari di Malang. Raja mereka yang terkenal adalah Ken Aok. Singosari bertahan hingga abad ke-13, terakhir dipimpin oleh Prabu Kertanegara.

Pada abad ke-13, menantunya yang beragama Islam (santri)  bernama Raden Wijaya, mendirikan kerajaan Majapahit di sebelah utara, yaitu di pinggiran sungai Brantas. Mereka didukung oleh angkatan laut Tiongkok, yang sudah beragama Islam. Namun tidak dapat dicegah adanya pertempuran antara kaum santri dan kaum Hindu-Budha (yang sering juga disebut kaum Bhairawa). Ketika kaum Hindu-Budha itu memerangi mereka, banyak orang santri yang mati terbunuh atau luka-luka  berat di Troloyo, sekitar 2 kilometer sebelah selatan Trowulan pusat Kerajaan Majapahit. Prabu Brawijaya V dari Majapahit, disamping memiliki permaisuri yang beragama Hindu-Budha, juga memiliki istri selir berasal dari Kampuchia. Istri selir itu beragama Islam dan mempunyai  anak darinya dua orang. Yang besar bermama Tan Eng Koat, adiknya adalah Tan  A  Lok. Tan A  Lok ini kawin dengan Tan Kim Han, duta besar Tiongkok untuk Majapahit. Tan Eng Hoat, dalam pertempuran  di Troloyo itu gugur, bersama-sama  banyak pejuang lain. Kakak iparnya, yaitu Tan Eng Hoat kemudian dibawa lari ke daerah Demak, dimana ia menjadi  Sultan pertama dan memakai nama Raden Patah. Dari kesultanan Demak inilah akan  lahir seorang pemimpin yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Ia menjadi raja pertama dinasti Mataram di Yogyakarta.

Pada tahun 1919 tiga orang bersaudara sepupu membuat acara tetap yang berupaya menyelaraskan ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Mereka adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoro, KH. M. Hasjim As’yari dari Pesantren Tebu Ireng kabupaten Jombang, yang sekitar 100 klilometer jauhnya dari kota Surabaya. Mereka dilengkapi dengan KH. A Wahab Chasulllah dari Pondok Pesanten Tambak Beras, dari kabupaten yang sama. H.O.S  Tjokroaminoto memiliki menantu bernama Soekarno yang kemudian hari lebih terkenal dengan sebutan Bung Karno. Tiga orang sepupu itu, dalam diskusi-diskusi itu membawakan ajaran-ajaran agama Islam. Sedangkan Soekarto membawakan semangat kebangsaaan. Diskusi tiap hari Kamis itu berlanjut hingga tahun 1926, saat Nahdlatul Ulama berdiri secara tidak terasa, para kiai yang tergabung dalam NU terbiasa dengan dialog antar ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pembahasan-pembahasan itu pada akhirnya membuat NU senantiasa berpegang pada ajaran-ajaran agama Islam, tidak pernah melupakan semangat kebangsaan. Karena itu, tidak heran jika Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (tahun 1935) kemudian memutuskan orang-orang santri tidak wajib mendirikan negara Islam.

Diskusi tiap hari Kamis itu berlanjut hingga tahun 1926, saat Nahdlatul Ulama berdiri secara tidak terasa, para kiai yang tergabung dalam NU terbiasa dengan dialog antar ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pembahasan-pembahasan itu pada akhirnya membuat NU senantiasa berpegang pada ajaran-ajaran agama Islam, tidak pernah melupakan semangat kebangsaan. Karena itu, tidak heran jika Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (tahun 1935) kemudian memutuskan orang-orang santri tidak wajib mendirikan negara Islam.

Dari apa yang diuraikan di atas, jelaskah bahwa faktor kawasan menjadi sangat penting  dalam sejarah bangsa kita. Tidak ada kesatuan ideologis, melainkan begitu banyak pandangan-pandangan dan keyakinan-keyakinan berkembang sehingga tidak pernah dicoba untuk menjadikannya panutan tunggal. Selain itu, kita melihat, bahwa antar ajaran Islam dan semangat kebangsan tidak perlu dipertentangkan  melainkan justru hidup berdampingan secara damai. Semoga untuk selanjutnya, semangat yang demikian itu dapat dikembangkan lebih jauh.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>