Cerita Perkawinan Anak-anak Eks Tapol

Cerita sebelumnya tentang Endang, seorang perempuan anak eks PKI dari Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta, yang perkawinannya goyah. Goyahnya perkawinan Endang bukan bersebab karena ia anak seorang eks PKI (Partai Komunis Indonesia), tetapi karena suaminya yang selingkuh. Sampai ia berfikir, bahwa godaan perkawinannya bukan karena ia anak PKI tetapi karena karakter suaminya yang memang playboy.

Dalam falsafah Jawa ada istilah bibit dalam memilih jodoh. Seorang yang mencari jodoh, demikian falsafah Jawa, seyogyanya tidak hanya melihat secara fisik, tetapi juga asal-usul dan atau silsilah keluarga. Inilah yang disebut bibit.

Selama ini, berkait dengan bibit, para eks Tapol dan anak-anaknya sering dianggap mempunyai silsilah yang “cacat”, dan  pada masa lalu –semoga tidak lagi pada saat ini– menjadi penghambat bagi mereka untuk menikah. Namun ternyata, bibit yang dianggap cacat ini pun ternyata  tidak selalu berarti cacat. Ini soal  kepribadian seseorang.

Kita lihat cerita seorang lainnya,  Eka Septi Wulandari, yang juga seorang anak eks Tapol dari Galur, Kulonprogo. Septi memiliki kehidupan keluarga yang harmonis. Suaminya tak pernah menyoal masa lalunya, termasuk masa lalu orang tua Septi.

Saat menikah,  calon suami dan keluarga mertuanya sudah tahu latar-belakang Septi yang anak eks Tapol. Tapi mereka tidak menyoal itu,  kecuali nenek Agung yang keberatan karena  berpandangan bahwa PKI itu kejam. Perkawinan tetap berlangsung.

Saat ini Septi sudah jadi bu Dukuh di Nomporejo, Galur, Kulonprogo. Bukti bahwa bibit yang dianggap cacat ternyata bisa menjadi seorang yang punya “bebet” dan “bobot” yang tidak dimiliki  oleh sebagian orang yang dianggap punya bibit “unggul”.

Cerita tentang perkawinan lainnya dialami oleh Panut Budi Harjono (68 tahun), mantan ketua cabang Pemuda Rakyat. Ia  ditangkap, disika dan ditahan selama delapan tahun di Wirogunan Yogyakarta. Saat ditangkap ia dihakimi massa karena aktivitasnya itu.

Perkawinaan anak sulungnya yang laki-laki terancam gagal karena ia seorang eks Pemuda Rakyat, yang dikenal sebagai eks PKI.

Ia bercerita. “Ketika anak sulung saya mau menikah, saya langsung mendatangi orang tuanya. Saya tanya mereka, maunya terus apa bubar. Kalau terus ya dinikahkan, kalau bubar ya langsung bubar.”

Saat itulah orangtua pihak perempun menyerahkan sepenuhnya perkawinan anak mereka kepada Panut yang kini eksis sebagai pengusaha roti di Sedayu. “Keduanya akhirnya menikah secara Kristen, dan tinggal di Jakarta.  Sampai sekarang baik-baik saja kok,” tuturnya.

Tiga cerita tersebut mengajarkan kepada kita bahwa  memilih calon pendamping hidup berdasarkan “bibit, bebet, bobot” itu seyogyanya menempakan bobot (kualits diri yang berkaitan dengan keilmuan dan kepribadian) jadi prioritas pertama, bukan bibit (keturunan) dan bebet (kedudukan).

Karena bibit bukan sesuatu yang bisa kita usahakan dan perjuangkan, tetapi sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Sebab kita tidak bisa memilih  kapan, dimana dan dari rahim siapa kita dilahirkan, bukan?

Disarikan  dari Ruas edisi Juni 2008

One thought on “Cerita Perkawinan Anak-anak Eks Tapol”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>